Bandung, 18 Juli 2025 — Peringatan Hari Lingkungan Hidup tidak seharusnya hanya menjadi seremonial tahunan belaka. Mengambil momentum tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Politeknik Manufaktur (BEM-KM Polman) Bandung Kabinet Arunodaya Vahaka merilis edisi khusus "Polman News" bertajuk "Bumi Menjerit, dan Kita Masih Diam?" untuk mengedukasi sivitas akademika mengenai krisis ekologis yang kian mengkhawatirkan.
Melalui rilis infografis tersebut, BEM-KM Polman Bandung menyoroti bahwa teknologi seharusnya digunakan untuk menjaga alam agar tetap lestari, bukan mengeksploitasinya—sejalan dengan kutipan dari B.J. Habibie. Merawat lingkungan ditegaskan sebagai sebuah investasi jangka panjang dan bentuk tanggung jawab manusia kepada alam.
Lebih lanjut, publikasi tersebut memaparkan sejumlah data kritis terkait kondisi lingkungan di Indonesia saat ini:
-
Peningkatan Deforestasi: Pada tahun 2024, deforestasi di Indonesia melonjak mencapai 175.400 hektare, meningkat signifikan dari 121.100 hektare di tahun sebelumnya. Akibatnya, lebih dari 1.200 spesies satwa liar kini berstatus dilindungi dan terancam punah karena kehilangan habitat alaminya.
-
Ancaman Polusi: Kualitas udara terus memburuk akibat emisi pabrik, kendaraan, dan kebakaran hutan. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan Indeks Kualitas Lingkungan Indonesia menurun ke angka 66,45, jauh di bawah target 70. Kondisi ini berisiko meningkatkan kasus ISPA dari tahun ke tahun.
-
Dampak Bencana Hidrometeorologi: Kerusakan ekologis kini berdampak langsung pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Mengutip data BNPB, sepanjang tahun 2024 telah terjadi 2.107 bencana alam. Ironisnya, 98,84% di antaranya adalah bencana hidrometeorologi seperti banjir (1.088 kejadian), cuaca ekstrem (455 kejadian), kebakaran lahan (337 kejadian), tanah longsor, dan kekeringan.
Untuk menekan laju krisis iklim ini, pemulihan lahan dipandang sebagai agenda penting guna memperbaiki produktivitas tanah dan meningkatkan penyerapan karbon. Namun, upaya ini kerap menemui tantangan ketika pelaksanaannya kurang transparan dan tidak melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal.
Melalui kampanye ini, BEM-KM Polman Bandung juga turut menggemakan gerakan KLHK bertajuk "Apel Bersama dan Aksi Bersih Sampah Plastik" guna menyadarkan mahasiswa akan kondisi darurat polusi plastik.
Pada akhirnya, menyelesaikan persoalan lingkungan bukan hanya tugas pemerintah semata. Mulai dari kaum muda hingga orang tua, setiap individu memegang peranan krusial. BEM-KM Polman Bandung mengajak seluruh mahasiswa untuk memulai dari langkah kecil—mulai dari memilah sampah, menanam pohon, hingga menghemat air. Karena koordinasi lintas sektor dan komitmen aksi nyata adalah kunci utama untuk menyelesaikan masalah lingkungan hingga ke akarnya.