Bandung, 25 Februari 2026 — Dewan Perwakilan Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (DPM-KM) Politeknik Manufaktur (Polman) Bandung kembali merilis Surat Keputusan Hasil Advokasi, kali ini ditujukan bagi Jurusan Teknik Pengecoran Logam (TPL) atau Foundry Engineering. Dokumen yang disahkan pada tanggal 25 Februari 2026 ini merupakan hasil dari Ruang Dengar Pendapat (RDP) yang telah diselenggarakan sebelumnya pada 14 November 2025.
Berdasarkan penjaringan data, advokasi ini melibatkan partisipasi 33 mahasiswa, yang didominasi oleh mahasiswa tingkat I (51,52%), disusul tingkat III (27,27%), dan tingkat II (21,21%). Dialog ini menghasilkan sejumlah evaluasi penting yang telah ditanggapi langsung oleh pihak jurusan, meliputi bidang akademik, fasilitas, hingga aspirasi terbuka.
Berikut adalah poin-poin utama dari hasil advokasi tersebut:
-
Keseimbangan Teori dan Praktik: Menanggapi keluhan mahasiswa yang merasa beban pembelajaran terlalu berat di teori, pihak jurusan menjelaskan bahwa secara akumulatif, porsi program D3 TPL telah mencapai sekitar 65% praktik dari total beban studi. Untuk angkatan 2025, jurusan juga telah memberlakukan kurikulum baru dengan bobot praktik yang lebih banyak, yakni 12 minggu per semester.
-
Kurikulum dan Kebutuhan Industri: Mayoritas mahasiswa menilai kurikulum sudah cukup mengikuti perkembangan teknologi. Ke depannya, pihak jurusan berkomitmen untuk lebih melibatkan pihak eksternal atau asosiasi industri agar kurikulum semakin responsif terhadap kebutuhan lapangan kerja, mengingat sebelumnya penyusunan kurikulum masih didominasi oleh pihak internal kampus.
-
Sistem Penilaian dan Beban Tugas: Terkait beban tugas yang dinilai berat, jurusan menegaskan bahwa tugas merupakan bagian integral dari sistem SKS dan bentuk pendalaman materi secara mandiri. Sementara itu, sistem penilaian dosen secara umum dinilai adil, dan mahasiswa diimbau untuk aktif menggunakan sistem AKASIA guna memberikan evaluasi pembelajaran yang objektif.
-
Fasilitas Bengkel dan Praktik: Mahasiswa menilai kelayakan bengkel sudah cukup baik, namun terdapat alat uji pasir yang perlu dikalibrasi serta beberapa alat yang berdebu karena jarang digunakan. Jurusan menjelaskan bahwa pengadaan alat kalibrasi baru sempat terhambat persetujuan pimpinan institusi, dan alat yang berdebu menunjukkan rendahnya utilitas alat tersebut akibat padatnya jadwal akademik.
-
Fasilitas Penunjang Kampus: Kualitas internet (Wi-Fi) yang sering bermasalah dan kondisi toilet yang kurang terjaga menjadi sorotan tajam dari mahasiswa. Pihak jurusan mengklarifikasi bahwa pengelolaan fasilitas tersebut berada di bawah kewenangan bagian umum institusi dan unit TIK, bukan di bawah jurusan secara langsung. Meski demikian, jurusan mengimbau mahasiswa untuk turut menjaga kebersihan lingkungan bersama-sama.
-
Aspirasi Tambahan: Mahasiswa juga menyuarakan harapan terkait transparansi uang saku magang, program pertukaran pelajar internasional, serta prioritas penggunaan alat bengkel bagi mahasiswa dibandingkan untuk pesanan produksi luar.
Surat Keputusan Hasil Advokasi ini ditandatangani oleh Ketua Komisi III Dzakka Khairana Wandeka, Ketua DPM-KM Rio Dwi Nugraha, dan Pembina DPM-KM Iman Apriana Effendi. Dengan rilisnya dokumen ini, diharapkan seluruh masukan dapat menjadi bahan evaluasi yang konstruktif bagi peningkatan mutu pendidikan di Jurusan Teknik Pengecoran Logam.